Jakarta – Di awal tahun 2015, mungkin sedikit yang percaya bahwa pada bulan April mereka akan menyaksikan derby Manchester dengan Manchester United yang posisinya ada di atas Manchester City. Hanya kurang-lebih satu tahun sejak City menang 3-0 dari United di Old Trafford, seolah skenario berbalik. Dalam pertandingan di Old Trafford besok malam (12/04), nasib Manchester merah justru sedang lebih baik daripada si biru muda akhir-akhir ini. Di awal 2015, posisi City dengan Chelsea, sang pemuncak klasemen, hanya berbeda tipis. Namun, sejak menjuarai Liga Primer Inggris musim lalu, mereka harus kalah melawan Arsenal di Community Shield, tersingkir dari Piala Liga oleh Newcastle United, terlempar dari Piala FA oleh Middlesbrough, dan dipecundangi FC Barcelona di babak 16 Liga Champions UEFA. Sejak musim lalu, pasukan Manuel Pellegrini ini telah mengalami kesulitan untuk bertahan di puncak, mereka juga kalah empat kali dalam 10 pertandingan terakhir di Liga Primer, dengan memenangkan hanya tiga di antaranya.

Tidak hanya sulit menjadi juara lagi, mereka ketinggalan satu poin dari sang rival merah di peringkat tiga. Jika melihat kembali bahwa Sir Alex Ferguson pernah berkata bahwa Manchester City adalah “tim bermental tempe”, masalah demi masalah di atas memang timbul akibat dari mental The Citizens yang terus menurun. Melihat skuat City, seharusnya Vincent Kompany dkk bisa unggul jauh dari rival-rival mereka. Jangankan menyingkirkan Middlesbrough di Piala FA, menyingkirkan Barcelona saja seharusnya masih dimungkinkan bagi mereka. Sementara Setan Merah setelah disingkirkan oleh Arsenal dari Piala FA, performa mereka justru semakin menanjak. Banyak hal sudah berubah, terutama ketika mereka berhasil menang di Anfield, Liverpool. Sejak itu, United bukan saja selalu menang, tapi mereka juga selalu bermain penuh percaya diri. Apa yang salah dengan Manchester City? Sejujurnya selain masalah mental, mereka memiliki susunan pemain yang sangat baik. Namun, kita tidak bisa mengukur masalah mental, jadi mari kita lihat secara taktik saja. Orang yang paling disoroti akhir-akhir ini adalah manajer mereka, Pellegrini.

The Engineer sepertinya harus berimprovisasi mengenai taktik dan sistem permainannya. Hampir seluruh kesebelasan di Eropa memainkan 4-3-3 jika mereka sedang memegang bola, dan mengubahnya ke 4-5-1 ketika mereka kehilangan bola. Dua transformasi ini adalah hal yang paling umum, namun juga efektif. Tapi tidak demikian dengan Pellegrini. Ia menggemari sistem 4-4-2 di City, sistem ini menunjukkan satu kelemahan yang pasti selalu terlihat: Lini tengah City yang selalu kalah jumlah pemain. Pellegrini sepertinya tidak akan mau berubah. Dengan 4-4-2, Pellegrini berhasil memenangkan 8 pertandingan di Liga Inggris, tapi mereka juga kalah empat kali. Terakhir saat melawan Crystal Palace pada Selasa dini hari (07/04), City memiliki penguasaan bola sebanyak 74 persen, tapi harus kalah 1-2. Satu hal yang jelas terlihat: Menguasai Prediksi Bola Jitu tidak ada artinya jika mereka selalu berada di tempat yang salah. Apa yang salah dengan 4-4-2-nya Pellegrini? Duet Fernandinho atau Fernando dengan Yaya Toure sangat energik, tapi tidak ada yang melapisi mereka, terutama ketika Yaya lebih gemar naik membantu serangan. Seharusnya masalah ini bisa diatasi dengan menarik salah satu dari duet striker ke belakang, biasanya Sergio Aguero yang diduetkan dengan Edin Dzeko, sehingga 4-2-3-1 akan menimbulkan keseimbangan dan juga dinamisme.

Masalahnya kemudian, ketika ia mencoba mengubah ke 4-2-3-1, City memang tidak sering kalah (menang 5 kali, imbang 5 kali, dan kalah sekali), tapi angka kebobolan mereka naik drastis. Dengan 4-2-3-1, posisi di belakang striker biasa diisi oleh David Silva. Satu-satunya alternatif Pellegrini yang dinilai berhasil hanyalah 4-4-1-1. Apa bedanya dengan 4-2-3-1? Bukankah duet striker sama-sama turun ke belakang? Bedanya dengan 4-4-1-1, posisi di belakang striker biasa diisi oleh Stevan Jovetic, yang juga merupakan pemain yang bertipikal striker. Tapi dengan 4-4-1-1 mereka tidak berhasil mencetak banyak gol, meskipun juga tidak kebobolan banyak. Satu yang tidak boleh dilupakan ketika membicarakan performa City yang menurun, tentunya adalah lini belakang mereka, terutama Vincent Kompany. Sang kapten telah kesulitan akhir-akhir ini. Permainannya yang menurun dibarengi juga dengan pasangannya di lini belakang yang dinilai kurang kompeten, baik Martin Demichelis maupun Eliaquim Mangala. Selain itu, dua pemain tengah di depannya, yang seharusnya melindungi para bek tengah terutama pada serangan balik, tidak bisa diandalkan. Toure sering terlambat turun, sementara Fernando atau Fernandinho belum menemukan permainan terbaik mereka. Satu-satunya pemain yang paling rajin naik-turun hanyalah James Milner yang underrated.

Menurut kami, Milner adalah pemain City yang paling bersinar musim ini. Setelah sekian lama menanti, banyak orang yang puas dengan apa yang Louis van Gaal lakukan dengan Manchester United, sehingga banyak orang juga yang lupa bahwa memang seharusnya United berada pada level ini sedari dulu. Secara taktik, ia sangat jitu ketika menghadapi Liverpool. United menekan dan mengurung Liverpool. Banyak pemain juga yang sekarang sepertinya sudah berada pada posisi yang tepat. Di lini tengah misalnya, Michael Carrick seperti “the unsung hero”, ia memberikan “asuransi” kepada seluruh pemain United dengan gerakannya yang statis dan terkesan “makan gaji buta”. Tak banyak orang yang bisa menyadari ini, “kemalasan” Carrick membuat Ander Herrera bisa bergerak bebas dan dinamis, begitupun Juan Manuel Mata yang mampu menunjukkan bahwa dirinya adalah pemain Liga Primer yang paling kreatif sekitar tiga musim yang lalu di Chelsea. Kemudian jika kita beralih ke depan, Wayne Rooney akhirnya mampu bermain pada perannya yang lebih alami dan penuh energi.